Arsip untukJuli, 2007
OpenSUSE
OpenSUSE adalah distro Linux versi komunitas yang didukung dan disponsori oleh Novell. OpenSUSE merupakan distro Linux open source dan gratis yang menjadi dasar pengembangan bagi distro Linux komersil yang disediakan oleh Novell, SUSE Linux Enterprise Server (SLES) dan SUSE Linux Enterprise Desktop (SLED).Salah satu keunggulan utama dari OpenSUSE dibandingkan distro Linux lainnya adalah kelengkapan pustaka dan berlimpahnya software yang disertakan. Bersama Red Hat, SUSE adalah distro Linux versi awal yang terus bertahan dan berkembang hingga sekarang.
Banyak orang yang takut menggunakan OpenSUSE karena bias pada lisensi yang digunakan. OpenSUSE adalah distro Linux yang free dan open source. OpenSUSE dapat digunakan secara bebas dan tanpa biaya. Jika suatu perusahaan atau lembaga menginginkan varian distro berbasis SUSE yang disertai dukungan support, tersedia SLES dan SLED. Feature yang sudah stabil dan sudah teruji pada OpenSUSE merupakan dasar dari software yang disertakan pada SLES dan SLED.
Apakah ada beda antara SLED, SLES dan OpenSUSE yang merupakan versi komunitas ? Selain dari sisi support dan sedikit perbedaan penampilan, hampir tidak ada perbedaan mendasar antara versi komunitas dengan versi komersil. Kita dapat tetap menggunakan OpenSUSE secara penuh tanpa khawatir adanya pengurangan kualitas dan kelengkapan.
Jika menginginkan distro Linux yang stabil, mudah dalam melakukan deteksi perangkat keras, mudah dikelola dan didukung penuh oleh komunitas pengembang di seluruh dunia serta memiliki dukungan sponsor dari perusahaan besar, cobalah OpenSUSE.
Angkringan Sebul, Sebuah Revolusi di Jagat Angkringan
Budaya ngangkring sepertinya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Jogja. Selain harganya yang relatif bersahabat (tergantung seberapa banyak Anda makan tentunya, kalo aku sendiri biasanya makannya membabi buta jatuhnya ya banyak juga), angkringan menimbulkan kecanduan karena atmosfernya yang santai, informal dan asyik untuk ngobrol. 
Namun sepertinya angkringan sudah terlalu identik dengan mahasiswa dan kalangan kerah biru. Angkringan dicap sebagai tempat makan murah(an), sempit dan tidak higienis. Citra itu nampaknya sudah terlanjur melekat sehingga menjauhkan budaya ngangkring dari segmen masyarakat yang lebih luas, walau saat ini tampaknya angkringan sudah mulai menjadi trend populer di kalangan luas.
Karena itulah Angkringan Sebul dengan konsep resto-angkringannya bisa dibilang sebagai sebuah revolusi. Bagi Anda para fans berat angkringan, jangan mencibir dulu dan beranggapan ini sebagai sebuah proyek coba-coba yang serba tanggung. Angkringan Sebul tidak berusaha meng-cafe-kan angkringan. Angkringan Sebul tetap sebuah angkringan, in every sense! Bahkan bisa dibilang tempat ini adalah perpaduan sempurna dari kenikmatan Angkringan Deresan (yang legendaris) ditambah atmosfer penuh persahabatan Angkringan Tugu Lik Man (yang tak kalah legendaris).
Angkringan Sebul buka sore hingga larut malam, beralamat di Jl.Timoho, sebelah selatan Happy Land. Jangan mencari gerobak angkringan di pinggir jalan, carilah sebuah gubuk bambu bertingkat dengan banyak motor di parkirannya. Dan jangan kaget bila yang datang bukan cuma mahasiswa. Waktu saya ke sana, ada sebuah keluarga lengkap dengan neneknya yang sedang asyik pilih-pilih makanan.
Suasana angkringan benar-benar terasa ketika anda mengambil piring kaleng dan mengantri makanan dengan diterangi cahaya suram kekuningan lampu senthir. Menunya lebih lengkap dari angkringan pada umumnya. Selain menu favorit seperti nasi oseng-oseng (yang dibungkus daun pisang tentunya), sate usus, sate telur puyuh, ceker ayam dan berbagai gorengan, tersedia juga menu tidak biasa seperti lele goreng, mangut lele, burung dara dan lauk unik perkedel daun singkong (yang enak!). Jangan lupa memesan minuman di gerobak angkringan yang tetap dilengkapi dengan tiga ceretnya, favoritku susu jahe. Dan tak lupa dilengkapi dengan giant screen melalui viewer.
Bubur Ayam Syarifah
Sande Moning di UGM abis itu sarapan bubur ayam Syarifah di pinggir Jl. Colombo depan komplek UNY selalu dikerubuti para pencari sarapan, ditandai dengan banyaknya mobil dan motor yang parkir. Ketika kami datang, kami harus mau berbagi meja dengan pengunjung lain. Meja panjangnya ada lima, dengan bangku-bangku panjang yang mepet-mepet. Alhasil, ketika warung penuh, bisa saja Anda harus menikmati bubur ayam dengan beradu punggung dan sikut-sikutan. Namun itulah sensasi makan yang cuma bisa didapat di tempat yang laris, selalu dilengkapi dengan aura perjuangan dan kompetisi. Untungnya, meskipun banyak orang, waktu itu, kompetisi tidaklah terlalu ketat, sehingga kami bisa menikmati semangkuk bubur ayam dengan lumayan lega.
Seperti lazimnya bubur ayam, di Bubur Ayam Syarifah kita tak bisa melihat dengan jelas bagaimana sebenarnya rupa si bubur karena terkubur di balik timbunan kerupuk, ayam suwir, dan benda-benda pelengkap lainnya. Bisa saja sih pesan kerupuk di mangkuk terpisah, tapi kok rasanya nggak afdol yah? Dan karena tak bisa makan bubur ayam tanpa sambal, saya harus mengaduk-aduk dan mengacak-acak si bubur supaya pedasnya sambal yang ditambahkan bisa merata. Hasilnya adalah gumpalan putih kemerahan di dalam mangkuk yang dihias dengan tonjolan-tonjolan kerupuk berwarna salem yang tenggelam di dalam bubur.
Bukan pemandangan yang terlalu nouveau art tentu saja, apalagi ketika saya menambahkan kuah kaldu berwarna kekuningan pekat ke dalam campuran amburadul itu. Tapi sudahlah, karena suapan pertama bubur ayam yang lembut dan gurih segera mengalihkan konsentrasi saya kepada suapan-suapan yang berikutnya. Sebagian orang mungkin mencap bubur ayam sebagai makanan orang sakit. Tapi kalau untuk saya, ini makanan yang cocok sekali untuk sarapan . . . enteng, lembut, nikmat dan penuh gizi!
Satu mangkuk Bubur Ayam Syarifah ditebus dengan harga lima ribu rupiah saja. Saran saya, datang pagi-pagi, selain karena takut kehabisan, kayaknya nggak cocok deh makan bubur untuk brunch . . . apalagi lunch. mak nyuussss!!!! sumber
Angkringan Lik Man
Angkringan Lik Man merupakan angkringan legendaris, sebab pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di Yogyakarta yang umumnya berasal dari Klaten. Lik Man yang bernama asli Siswo Raharjo merupakan putra Mbah Pairo, pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an. Warung berkonsep angkringan yang dulu disebut ‘ting ting hik‘ diwariskan kepada Lik Man tahun 1969. Sejak itu, menjamurlah angkringan-angkringan lain.
Begitu sampai di angkringan yang buka pukul 18.00 ini, anda bisa memesan bermacam minuman yang ditawarkan, panas maupun dingin. Pilihan minuman favorit adalah Kopi Joss, kopi yang disajikan panas dengan diberi arang. Kelebihan kopi itu adalah kadar kafeinnya yang rendah karena dinetralisir oleh arang. Tak usah khawatir itu hanya mitos, sebab Kopi Joss lahir dari penelitian mahasiwa Universitas Gadjah Mada yang kebetulan sering nongkrong di Angkringan Lik Man.
Berbagai makanan juga disediakan, ada sego kucing berlauk oseng tempe dan sambal teri hingga gorengan dan jadah (makanan dari ketan yang dipadatkan berasa gurih) bakar. Sego kucing di Angkringan Lik Man yang harganya Rp 1.000,00 tak kalah lezat dengan masakan lainnya sebab nasinya pulen dan oseng tempe dan sambal terinya berbumbu pas. Menikmati sego kucing yang selalu disajikan dalam keadaan hangat dengan lauk gorengan atau sate telur selain lezat juga tak menguras uang.
Jika menjumpai makanan dalam keadaan dingin, anda dapat meminta penjual untuk menghangatkannya dengan cara dibakar. Lauk pauk yang menjadi lebih lezat ketika dibakar adalah mendoan (tempe goreng tepung), tahu susur, tempe bacem, endas (kepala ayam) dan tentu saja jadah. Bila tak nyaman makan dengan bungkus nasi saja atau anda makan dalam jumlah banyak, penjual angkringan menyediakan piring untuk menyamankan acara makan anda.
Anda bisa memilih tempat duduk di dua tempat yang disediakan. Jika ingin berbincang dengan pedagang, anda bisa duduk di dekat bakul atau anglo. Selain dapat bercerita dengan Lik Man, duduk di dekat bakul akan mempermudah jika ingin tambah makanan. Tetapi bila ingin lebih berakraban dengan teman, anda bisa duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Tak perlu khawatir ruang yang tidak cukup sebab panjang trotoar yang digelari tikar hampir 100 meter.
Sambil duduk, anda diberi kebebasan untuk berbicara apapun. Orang-orang yang sering datang ke angkringan ini membicarakan berbagai hal, mulai tema-tema serius seperti rencana demostrasi dan tema edisi di majalah mahasiswa hingga yang ringan seperti kemana hendak liburan atau sekedar tertawaan tak jelas yang sering disebut dengan gojeg kere. Tak ada larangan formal, tetapi yang jelas perlu menjaga budaya angkringan, yaitu tepo sliro (toleransi), kemauan untuk berbagi dan biso rumongso (menjaga perasaan orang lain). Bisa diartikan tak perlu berebut tempat dan menghargai orang lain yang duduk berdekatan.
Sejumlah tokoh terpandang telah menjadikan Angkringan Lik Man sebagai tempat menikmati malam. Ada Butet Kertarajasa, Djaduk Ferianto, Emha ainun Nadjib, Bondan Nusantara hingga Marwoto. Maka, tak seharusnya anda melewatkan suasana malam kota Yogyakarta tanpa berkunjung ke Angkringan Lik Man. Nikmatilah nuansa yang pernah dinikmati oleh banyak orang Yogyakarta dan sejumlah tokoh yang disebut di atas.
Aaa kangen Jogja
BRE akhirnya masuk major label juga
Setengah Mati
by tama BRE
Harga yang harus kubayar
Terlalu tinggi
Terlalu mahal
Hanya untuk sebuah percintaan
Hidupku hancur
Hidupku meranabridge:
Aku mati tak mau
Hidup pun tak mampu
Ku mengapa begini..reff:
Aku patah hati
Sakit hati
Sakitnya setengah mati
Aku jadi gila
Karna sebuah cinta
Rasanya hanya ingin mati sajasakit yang harus kurasa
Terlalu perih
Terlalu pedihSemakin kucoba tuk bertahan
Semakin luka
Semakin ku gila
Salut ni lagu yg pernah jadi soundtrack ku waktu broken jaman kuliah ga jelas di Jogja ternyata skrg jadi hits lagi, BRE group band katrok dr Jogja sama hist sempurna setelah digaet major label Warner Musik Indonesia. BRE terdiri dari lima personel, Taka (vokal), Alfan (bass), Toni (Drum), Fendee dan Tama (gitar).
Melow terus dab…!!!







